Kamis, 18 April 2013

Cerita Dinding BAW


          Sssstsss....coba dengar baik-baik, seperti ada yang mengetuk pintu kamarku. Aneh...bukannya semua orang sudah tidur?
            Tok...tok...tok...tok...tok...
            Suara ketukan pintu itu semakin keras.
            “Iya sebentar...” aku melangkah sambil menguap lebar. Kulirik sekilas jam di dinding kamar. Tepat jam 12 malam.
            Dan...
            Rasa kantukku hilang seketika saat tak kutemukan satu pun orang di depan pintu. Semoga ini hanya halusinasi, gara-gara tadi aku kebanyakan makan nasi sambal terasi. Ah aku benci ini, sebuah adegan seperti di kebanyakan film misteri. Menemukan sebuah surat tanpa identitas tergeletak pasrah di depan pintu kamar ini. Kalau aku ambil surat itu, jangan-jangan nanti suratnya bakal lari karena ditarik benang transparan seperti adegan film animasi. Atau surat itu bisa saja akan berubah menjadi emas, karena ternyata sentuhan tanganku punya kekutan magis.
Sudahlah. Segera kuakhiri liarnya imajinasi ini, sebelum si pengantar surat datang lagi dan membuat semakin ngeri
              *** 


Dear Rifka...
Pernahkah kau membayangkan menjadi sebuah dinding? Sejatinya fungsi dinding adalah sebagai pembatas bukan? Pemisah antara bagian luar dan bagian dalam. Tapi, pernahkah kau membayangkan ada dinding yang berbeda? Mempunyai fungsi yang benar-benar tak seperti biasanya. Dia sebagai pelebur batas antara yang junior dengan senior, yang belum tahu dengan yang lebih tahu, yang pasif dengan yang aktif. Ya...itulah aku.
Aku adalah sebuah dinding di rumah maya yang menamakan dirinya BAW.
Jangan terkejut seperti itu. Aku yakin kamu tahu bahkan sangat tahu apa dan seperti apa BAW itu. Tapi baiklah akan kembali kuceritakan tentang sebuah rahasia di rumah penuh cinta itu.
Mereka menamakan diri mereka BAW kumpulan orang-orang yang mempunyai satu mimpi yang sama menjadi seorang penulis (Be A Writer). Kau masih ingat bunda Leyla Hana, Riawani Elyta, dan Shabrina WS? Ya...benar, para penulis produktif itu, penulis novel Cinderella Syndrome, Yang Kedua, Always Be in Your Heart dan banyak buku-buku hebat lainnya. Merekalah para guru di rumah penuh inspirasi itu.
Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, bahwa aku berbeda. Dari dinding ini semua batas itu tak ada. Para penuis-penulis senior itu, penulis dengan tumpukan karya yang luar biasa jumlahnya mau duduk bersama berbagi ilmu yang mereka punya dengan penulis pemula. Padahal tidak sedikit diantara mereka yang belum pernah bertemu di dunia nyata. Semua sudah seperti saudara, bukan lagi seperti guru dengan muridnya. Benar-benar tak ada sekat yang membedakan, tak ada senioritas. Semua melebur jadi satu. Hangat, tulus, berbagi semangat setiap hari.
Seperti layaknya rumah yang juga mempunyai peraturan. Disana juga sama, setiap hari ada jadwal, tugas yang harus mereka selesaikan. Seperti “Diary Day” setiap senin, “Sharing Day” setiap selasa, “Blogging Day” setiap rabu, “ Promo Day” setiap kamis, “Review Day” setiap Jum’at, “Bussiness Day” setiap Sabtu, dan “Free Day” setiap Minggu. Jadwal padat yang membuat mereka semakin dekat.
Oh ya...aku yakin kau masih ingat saat kecil mungkin kau pernah melakukan ini. Mencoret-coret dinding rumahmu. Sebagai ungkapan atau bentuk ekspresimu, benar bukan? Kupikir hampir semua anak kecil melakukan hal itu.
Dan ya...aku pun seperti itu. Di rumah BAW dindingku selalu penuh, dengan banyak goresan-goresan dari para penghuni BAW. Mungkin karena mereka punya satu kesamaan, yaitu menulis, hingga seolah tak ijinkan ada celah di dindingku yang kosong. Sehingga mereka terus saja menulis, membuat goresan dan tinggalkan jejak di dindingku.
Kau mau tahu apa saja yang mereka tulis?
Banyak hal. Mulai dari saling sapa, sekedar membuat celetukan yang mengundang tawa hingga yang paling serius, berbagi ilmu dengan seluruh anggotanya. Tapi satu yang membuatku begitu terharu. Pernah ketika itu, mereka dengan semangatnya ikut membantu saudara-saudara kita di Palestina. Membuat lelang kecil-kecilan, menjual buku, gamis, atau apa saja yang mereka punya (bahkan menjual penggorengan) demi niat tulus mereka membantu saudara-saudara di Palestina.
Dan tentu saja, karena mereka adalah penulis, hal yang paling membahagiakan adalah ketika karya mereka diterbitkan. Ungkapan kegembiraan akan mewarnai dindingku sepanjang hari bahkan hingga minggu-minggu berikutnya. Mereka mengajarkanku satu hal, bahwa ternyata memang benar mendapatkan kebahagiaan itu sangat sederhana, ketika kita melihat sahabat kita bahagia atas prestasi yang telah dicapainya kita juga akan merasakan kebahagiaan yang sama. Dan aku tengah dan yakin akan terus merasakan kebahagiaan itu. Ketika satu per satu dari penghuni rumah cinta itu mencapai prestasinya, mencapai mimpinya dan terus mau berbagi, meninggalkan jejak di dindingku.
Apa aku bilang sudah menceritakan sebuah rahasia? Sepertinya belum sepenuhnya ya...
Seperti yang aku bilang di awal ada juga penghuni yang pasif, yang hanya berani menitipkan jempol dan tawanya. Dan akhirnya pada hari yang penuh kebahagiaan seperti biasanya, dia mau mencoret dindingku, pada hari senin sesuai jadwal, menulis diary day. Dan yang lebih membuatku tercengang adalah dia mau menulis semacam review di hari jum’at. Ya dia menyebutnya semacam review, karena memang sebuah review yang amat sederhana., mengingat pernah diungkapkannya bahwa dia tak pandai menulis apalagi menulis sebuah review. Di akhir  coretannya itu tertulis...
...sampai jumpa di waktu dan tempat yang lebih indah :)
 Tak ada yang menyangka bahwa itu adalah kalimat perpisahan darinya. Aku juga. Setelah itu, dia tak pernah lagi meramaikan dindingku ini. Tidak ada lagi jempolnya bertebaran di dindingku. Hingga aku terlambat sadar, ternyata dia benar-benar telah meninggalkan rumah inspirasi ini. Entah apapun alasannya, aku kini merindukannya. Merindukan jempol mungilnya tersebar di setiap sudut dindingku.
            Aku ingin mengatakan satu hal pada dia, seorang perempuan yang kuyakin masih punya mimpi yang sama seperti penghuni BAW lainnya. 
“Mungkin benar, namamu belum tercatat dideretan penulis besar negeri ini, tapi bukan berarti kau harus tinggalkan rumah ini. Bukankah kau pernah bilang rumah ini nyaman untuk ditinggali? Bukankah kau pernah bilang rumah ini begitu menginspirasi? Bukankah kau juga pernah bilang sehari saja tak pulang membuatmu rindu setengah mati? Apapun alasanmu pergi tuk sembunyi...nanti saat kau telah siap, saat kakimu telah mampu berdiri lagi bahkan berlari, kembalilah ke rumahmu ini. Kembali berjalan bersama kami, kembali mengejar mimpi, menuju pelangi...menjadi penulis penuh inspirasi...”

                                    Yang merindukanmu diam-diam

            Dinding BAW
Nb: hei... sekarang ada Bunda Afifah Afra juga di BAW ( Kalau nggak percaya intip aja http://bawindonesia.blogspot.com/  )
Jadi, apalagi yang membuatmu untuk tak kembali? :)
             ***



Jangan tanya seberapa deras air mataku mengalir. Ada rasa yang menyusup halus dalam dada, sedikit menyesakkan, berat, sebuah rasa yang akhirnya kusadar bernama kerinduan. Aku rindu rumah maya-ku itu. Rindu ketika setumpuk notifikasi dari BAW berebut masuk di akun facebook-ku.
Ah bodoh sekali aku sampai tak sadar telah melewatkan kesempatan itu. Berada satu atap dengan penulis-penulis produktif seperti mereka. Menyerap gratis ilmu dan semangat menulis dari mereka. 
Masihkah mimpiku sama?
 ***

Fabiayyi ala i rabbikumaa tukadzi ban
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Sayup kudengar ayat cinta itu dilantunkan, saat kusadari wajah ini basah. Ah...mimpi itu kenapa terasa begitu nyata.
Benar, Allah telah tunjukkan jalan untukku meraih mimpi kecilku. Membukakan pintu rumah BAW untukku, agar aku tinggal dan menyerap ilmu menulis di rumah cinta itu.
BAW aku kembali, dan tak akan pergi lagi. Masih berharap dan terus berharap akan menjadi penulis seperti penghuni BAW lainnya. Semoga...

Bunda...ayem redi kambek lagi ;)
Sent...Bunda Leyla BAW

***
Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway BAW 
 


10 komentar:

  1. wow :) lain dari yang lain :0

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe yang ini paling ngaco ya mbak hihihihihi :D

      Hapus
  2. penulisannya unik !
    kerennnnn >.<

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas tulisan GA BAW, Rifka.. suksess selalu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-samaaaaaaaaaa... :D
      sukses bareng BAW... aamiin :D

      Hapus
  4. sukses terus yaaaa,

    salam kenal

    nama kita sama-sama rifka :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. wowowowo...
      halo Rifka :D
      #agak aneh manggil nama sendiri hahahaha :D

      Hapus